Kamis, 19 September 2013

APRESIASI dan KREASI



APRESIASI dan KREASI.
          Ketika seseorang sedang menghadapi sebuah objek, pada dasarnya berlangsung sebuah proses dimana seseorang tersebut sedang berdialog dengan objek tersebut. Bila objek yang dihadapinya kasatmata (visual), maka indera optik (sensor) berperan menyerap data atau informasi yang dipancarkan objek visual ke otak kita, kemudian otak akan mengolah informasi tersebut berdasarkan pengalaman dan kecerdasan kita. Hasil akhir dari proses interaksi inilah yang kemudian akan melahirkan pandangan kita terhadap objek tersebut. Pandangan hasil pengamatan ini disebut sebagai sebuah tanggapan. Atau lebih tepat lagi sebuah persepsi. Ilustasi seperti ditunjukkan gambar no.1 menggambarkan peristiwa berlangsungnya sebuah proses psikologis yang melibatkan pengalaman masa lalu seseorang yang berinteraksi dengan kecerdasannya, kemudian membentuk informasi mutakhir terkait dengan objek yang diamati tadi. Selanjutnya membentuk informasi baru yang akan memperkaya perbendaharaan memori pengamat sebagai sebuah persepsi.
          Peristiwa sebagaimana digambarkan di atas disebut sebagai proses penghayatan. Hal  ini menjelaskan bagaimana suatu proses psikologis berlangsung dalam diri seseorang pada saat ia menghadapi suatu objek. Menghayati artinya menyerap informasi yang dipancarkan objek. Meskipun pada kenyataannya informasi yang dipancarkan itu sesungguhnya adalah pantulan dari pengalamannya sendiri terhadap objek tersebut.
          Proses yang sama berlangsung ketika seseorang sedang melakukan proses penciptaan atau proses kreatif. Disebut sebagai aktifitas kreatif (penciptaan/perancangan), karena pada momen yang sama, sebenarnya ia sedang menciptakan suatu konstruksi gagasan tentang objek yang sama, hingga terbentuk sebuah tanggapan. Sudah barangtentu pandangan atau tanggapan, atau lebih tepat lagi persepsi yang terbentuk itu murni rekayasa yang bersangkutan berdasarkan interaksi mutakhirnya.
                                  
Persepsi (P)= Objek (O) + Senses =S >< (Intelegensia =I + Experience =E)
Gb. 1. Skema persepsi berdasarkan Nathan Knobler (1966)
           
        Persepsi, atau kesadaran kita terhadap sekeliling, lebih sering didasarkan pada informasi yang datang melalui indera dan selama ini dianggap sebagai bagian alamiah dari keberadaan kita. Asumsi ini diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa setiap orang melihat secara sama,  dan dunia kita pahami sebagaimana kita melihat, mendengar, menyentuh serta membaui, semuanya secara sama. Padahal tidaklah demikian. Pada kenyataannya, percobaan penelitian menunjukkan, bahwa sensasi hanyalah satu bagian saja dari persepsi, dan sensasi yang kita terima tidak memiliki makna apapun sampai kita dapat mengatur dan menyusunnya menjadi suatu konstruksi yang saling berkait (koheren) dan kita sebut sebagai persepsi .
          Sebagaimana dipaparkan oleh Nathan Knobler (1966, 17), seperti ditunjukkan dalam diagram di atas, bahwa persepsi/perception (P) seseorang terhadap sesuatu objek/object (O), terbentuk berdasarkan informasi yang masuk melalui indera/sense (S) kita dan dipengaruhi oleh interaksi antara pengalaman/experience (E) dan intelengensi/intelegentia (I) kita. Demikianlah mengapa terhadap objek yang sama persepsi seseorang berbeda dengan persepsi orang lain, karena intelegensi dan pengalaman setiap individu  saling berbeda pula. Sebagai contoh terkait dengan aspek pengalaman misalnya, mencakup baik pengalaman psikologis, pengalaman sosial, pengalaman budaya, pengalaman artistik, dan sebagainya. Begitu pula dengan aspek intelegensi seseorang. Oleh sebab itu dapat dipahami, manakala dua orang menatap pada suatu objek, katakanlah suatu peristiwa yang sama, interpretasi terhadap suatu peristiwa itu tentu akan berlainan satu sama lain. Sebagai contoh; persitiwa matahari terbenam di pantai Kuta, Bali akan dimaknai secara berbeda bagi mereka yang memiliki pengalaman indah karena bertemu dengan seorang turis cantik, dengan mereka yang memiliki pengalaman tak enak karena ditangkap Satpam, misalnya.
          Berlangsungnya peristiwa dialog “interaktif” antara seseorang dengan objek seperti digambarkan di atas,  dapat dikatakan sebagai proses penghayatan apresiasi. Lebih spesifik dapat diilustrasikan; ketika seseorang menatap sebuah objek estetik, maka informasi yang diserapnya adalah informasi estetik. Sehinga tanggapan yang terbentuk merupakan persepsi estetik. Namun karena pada waktu mengkonstruksi informasi-informasi estetik tersebut secara simultan juga berlangsung proses interpretasi, maka akumulasi tanggapan yang membentuk persepsi sesungguhnya sudah merupakan persepsi artistik.
          Bahasan penting lain dari diskusi di atas adalah peranan interpretasi  yang berlangsung dalam proses penghayatan. Karena peran interpretasi inilah maka proses penghayatan sebenarnya dapat pula dikatakan sebagai proses kreatif. Dikatakan sebagai proses kreatif karena peran meng-interpretasi merupakan otonomi atau hak prerogatif penghayat dalam mengkonstruksi informasi (dari objek yang diamati) sehingga membentuk persepsi. Itulah sebabnya maka apa yang disebut sebagai proses apresiasi di atas, juga merupakan proses kreasi.
Rangkuman:
-        Persepsi  seseorang terbentuk berdasarkan informasi yang ditangkap oleh indera, selanjutnya berinteraksi dengan pengalaman dan intelegensi yang bersangkutan. Bila disederhanakan formulasinya:  P= O + S (E +I).
-        Ketika seorang penghayat menatap objek estetik, maka akan membentuk persepsi artistik.
-        Selama proses penghayatan berlangsung, di samping  terjadi proses apresiasi, seorang penghayat sesungguhnya sedang terlibat pula dengan proses kreasi, yaitu ketika ia aktif membentuk atau menciptrakan perspesi tersebut.

Rabu, 28 Agustus 2013

PENDAHULUAN



          Istilah lain dari kata nirmana datar adalah desain dasar. Ada juga yang menyebutnya dengan desain dua dimensi atau nirmana dua matra. Digunakannya istilah atau kata dasar, mengacu pada peran pengetahuan dan teorinya yang mendasari aktifitas perancangan visual pada umumnya. Sedangkan istilah datar mengacu pada aspek wilayah kerja perancangannya yang bertumpu pada permukaan bidang dua dimensional atau bidang datar, dimana perancang menumpahkan gagasan imajinasinya. Kata nirmana, sejauh ini belum ada yang bisa menjelaskan makna harfiahnya. Sementara kata desain sendiri merupakan serapan dari kata dalam bahasa Inggris “design” yang dapat diartikan sebagai rancangan. Secara operasional aktifitas desain dasar lebih diarahkan untuk memberikan pengalaman bagi seseorang dalam melakukan olah perancangan, tanpa dibebani kepentingan tujuan praktis tertentu. Namun lebih ditujukan pada proses penghayatan atas unsur-unsur desain rupa, meliputi garis, warna, tekstur atau barik maupun bidang serta gempal. kesemuanya diorganisasikan berdasarkan prinsip-prinsip dasar perancangan, sehingga tercapai kesatuan, yang dibangun berdasarkan azas keselarasan, azas proporsionalitas dan azas kesetimbangan. Sesuai dengan karakteristiknya, nirmana dasar dua dimensi membatasi olah kerja perancangannya di atas permukaan bidang dua dimensi atau disebut bidang gambar; yang dalam lingkup skala panjang dan lebar yang disebut dengan bingkai gambar.
          Kita akan mengerti beragam unsur desain, memahami kaidah serta prinsip-prinsip desain, dan mampu mengaplikasikan sistem pengorganisasiannya dengan segala kompleksitas dan problematika perancangan desain dalam karakteristik ke-dwi matraan nirmana. Namun sebelum memasuki substansi tersebut di atas, perlu kiranya memahami terlebih dahulu, bagaimana sesungguhnya proses perancangan atau penciptaan berlangsung dalam diri seseorang. Skema terbentuknya persepsi rumusan Nathan Knobler kiranya relevan untuk memenuhi harapan tersebut. Karena pada dasarnya, dapat dikatakan, semua yang diciptaankan manusia di muka bumi ini lahir sebagai buah pikir manusia. Dan pikiran tentu tak dapat dilepaskan kaitannya dengan persepsi, karena persepsi-lah yang mendasari baik gagasan maupun tindakan seseorang.



Buku ini disusun berdasarkan urutan;
          Uraian yang menjelaskan bagaimana persepsi seseorang terbentuk. Dengan memahami terbentuknya persepsi diharapkan sidang pembaca akan lebih mudah untuk menempatkan peran dan posisinya sebagai seorang perancang atau desainer, serta tugas dan tanggung jawab apa yang bisa dikembangkannya melalui dunia perancangan. Bila pembaca mencermati bagaimana proses sebuah persepsi atau tanggapan seseorang terbentuk, pembaca dengan mudah akan mampu merekonstruksi bagaimana sebuah proses penghayatan berlangsung. Dengan cara yang sama, sesungguhnya kita juga sedang menjalani sebuah proses kreasi. Oleh karena persepsi yang terbentuk itu sebenarnya merupakan buah proses penciptaan tanggapan kita masing-masing yang khas, terhadap seuatu gejala.
          Proses penghayatan terhadap objek, dengan demikian dapat pula dikatakan sebagai proses kreatif. Karena pada momen itu, pada saat kita menghayati, kita juga sedang memunculkan sebagian dari pernik kekayaan perbendaharaan memori/pengalaman kita untuk saling berdialog dengan objek yang kita amati, sehingga muncul imajinasi. Dalam kalimat lain dapat dikatakan, kita terinspirasi oleh objek, dan oleh karenanya muncul gagasan atau tanggapan kita terhadap objek tersebut. Melalui pendekatan ini, diharapkan pembaca akan memiliki pemahaman komprehensif yang membantu praktek perancangan, dan lebih dari itu kerja kreatif penciptaan.
          Diikuti kemudian dengan uraian deskriptif ragam unsur rancangan atau elemen desain sebagai bahan baku  perancangan visual serta cakupan konseptualnya; strategi atau kaidah pengorganisasian unsur-unsur desain atau populer disebut prinsip dasar desain. Keduanya dilengkapi dengan ilustrasi contoh-contoh serta cara mengaplikasikannya dalam sebuah komposisi. Pada bagian akhir dipaparkan sejumlah materi contoh tugas perancangan serta strategi pelaksanaannya.


BAB I
MERANCANG dan MENGHIAS
Dalam setiap produk perancangan, selalu tak bisa ditinggalkan apa yang disebut sebagai kaidah perancangan. Kaidah perancangan atau dikenal dengan prinsip desain, merupakan semacam bentuk tata aturan, bagaimana suatu proses perancangan dilahirkan, setelah melalui serangkaian tahapan analitis mulai dari gagasan, perencanaan, percobaan hingga  realisasi perancangannya bisa diselesaikan. Dalam proses rancang rupa khususnya, apa yang disebut dengan prinsip perancangan, atau lebih sering disebut dengan prinsip desain, adalah suatu sistem organisasi dari elemen-elemen (unsur-unsur) dasar perancangan. Karena pada dasarnya, merancang adalah mengorganisasikan unsur-unsur rancangan, sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan total. Dengan memahami dan menghayati kaidah perancangan atau prinsip desain, seorang perancang akan leluasa dalam menghasilkan produk rancangannya.
          Pada dasarnya, setiap orang adalah perancang. Nyaris semua aktifitas yang dilakukan oleh manusia, setiap hari, tidak bisa lepas dari aktifitas perancangan. Pada saat seseorang mereka-reka busana yang hendak dikenakannya hari itu; ketika seseorang merangkai sejumlah kata dalam menyusun kalimat; atau sewaktu seseorang memilah-milah sayuran, dan kemudian memilih beberapa di antaranya sebelum ia memasaknya, pada saat itulah seseorang sedang terlibat dengan aktifitas merancang.
          Merancang adalah menyusun sejumlah unsur sehingga menjadi satu kesatuan. Sebagai satu kesatuan, unsur-unsur itu kemudian terbentuk sebagai satu entitas baru, dalam suatu komposisi yang utuh. Sebagai satu entitas, sebuah rancangan dikatakan berhasil manakala keseluruhan unsur yang disusun dan diorganisasikan telah menyatu (unity) sehingga tidak dapat lagi dilihat sebagai bagian per bagian.
          Mendesain nirmana datar, atau merancang desain dua dimensi, mengandung pengertian menyusun gagasan keindahan perupaan (visual) ke dalam wujud kongkrit di atas bidang datar (dua dimensional). Lebih dari itu, mendesain sebagai kata kerja adalah menyelesaikan suatu masalah yang dilaksanakan secara kreatif. Ada slogan yang menyatakan: “design is how to solve the problem creativly.” sedangkan pengertian kreatif adalah “how to make a design in simplycity and artisticly, but usefull and efectivly”. Dengan kata lain, dalam sebuah rancangan atau desain selain memenuhi kaidah keindahan, haruslah sederhana namun sekaligus juga berdaya guna secara efektif.
          Dalam pelaksanaannya, merancang merupakan kerja praktis. Dalam ranah perancangan perupaan, kerja praktis itu melibatkan sejumlah asas atau kaidah perupaan berupa tema rancangan; yang harus diimplementasikan berdasarkan kaidah-kaidah perancangan yang lain; seperti asas komposisi; apakah komposisi terbuka atau komposis tertutup, asas karakter unsur desain; asas perseptual (pemahaman); dan asas optis (penglihatan). Asas tema pada rancangan menyiratkan arah dan tujuan gagasan yang mengandung aspek keterencanaan. Sebuah rancangan desain visual akan mampu menunjukkan ketuntasan purna rupa, manakala gagasan visualisasinya dituntun oleh arah perwujudan yang matang, dan disertai kemantapan tujuan yang jelas. Kesemuanya ini akan menjelma sebagai langkah kerja yang terencana yang termanifestasikan di dalam rancangan.
          Secara teoritis, merancang dibedakan dengan menghias. Sebagaimana telah diuraikan di atas, ketika seseorang terlibat dalam suatu proses perancangan, maka aspek keterencanaan merupakan hal penting. Melalui sebuah perencanaan yang matang, sebuah rancangan akan hadir secara utuh, dimana totalitas keterhubungan antar unsur, meliputi keselarasannya, kesetimbangannya, maupun proporsionalitasnya saling terjaga satu sama lain, berpadu menjadi satu kesatuan yang mampu menghadirkan rancangan sesuai dengan tema yang digagas. Sementara kerja menghias terbatas hanya pada ranah permukaan saja. Sebagai contoh, ketika seseorang diminta untuk membuat dan menyajikan nasi goreng, maka ia tidak sekedar dituntut untuk menyajikan nasi yang telah digoreng di atas piring sehingga tampil menarik. Akan tetapi lebih dari itu ia sedang merancang bagaimana nasi goreng yang disajikan itu nantinya mampu menghadirkan rasa atau taste yang baru, yang khas dan unik sebagai karya. Dalam konteks ini, terminologi ‘merancang’ berkaitan dengan kreatifitas pemasak dalam meramu bumbu dan sejumlah unsur yang harus disatukan sehingga membentuk nasi goreng khas. Sedangkan terminologi ‘menghias’, sebatas bagaimana nasi goreng yang telah dimasak itu disajikan di atas piring, di mana harus diletakkan kerupuk dan mentimun serta di mana tomatnya sehingga tampil menarik. Hal yang sama juga berlaku pada saat seseorang merancang sebuah baju. Sebuah rancangan baju tentu didasarkan pada tema dari baju itu, maka seluruh kerja memotong kain, penempatan unsur kelengkapan baju seperti kancing dan sebagainya, tidak boleh lepas dari tema baju yang telah ditentukan.
          Kerja perancangan datar atau desain dua dimensi memang tak lepas dari persoalan visualitas, atau citra yang kasat mata. Sama dengan persoalan penyajian nasi goreng di atas. Namun permasalahannya adalah, bagaimana unsur-unsur kasat mata yang membentuk sebuah rancangan itu kemudian hadir dalam sebuah tema rancangan, sehingga antara yang kasat mata dan tema yang diidealisasikan menjadi menyatu (unity). Dalam pengertian inilah makna perancangan itu bisa diartikan sebagai manifestasi dari adanya aspek perencanaan. Karena merancang pada dasarnya adalah mewujudkan sebuah rencana. Atau dengan kata lain, merealisasikan gagasan perupaan berdasarkan sebuah konsep. Oleh karena itu sebuah desain yang baik akan menunjukkan jejak keterencanaan sebuah gagasan, dan hasilnya sudah final. Pada gilirannya, sebuah rancangan yang baik akan memancarkan keindahan. Karena keindahan hanya akan tercapai manakala keseluruhan unsur yang diorganisir tepat pada tempatnya, sehingga tak ada lagi cela.




visualitas

       Visualitas merupakan citra (image), baik dua dimensi (dwimatra) maupun tiga dimensional (trimatra) yang dapat diidentifikasi melalui indera optik kita (mata).Citra visual dua dimensional bisa berupa lukisan, poster, fotografi, cover buku, gambar di badan bus dan sebagainya. Sementara citra tiga dimensional bisa berupa relief, patung, bahkan objek benda sehari-hari sekalipun. kesemuanya adalah produk dari sebuah proses yang disebut merancang. Kerja perancangan lazim pula disebut dengan mendesain, yaitu praksis menyelaraskan (harmony), menyeimbangkan (balance) secara proporsional (proportion) sejumlah unsur desain, sehingga keseluruhan unsur tersebut menjadi menyatu (unity).

       Keberhasilan memadukan unsur desain sehingga mampu menarik perhatian pengamat, dipengaruhi oleh kompetensi (kemampuan) seorang perancang (desainer) dalam 'memanipulasikan' unsur-unsur desain, yang berdasarkan prinsip-prinsip desain terjalin kesatuan dengan bidang gambar (picture plane) dan bingkai gambar (picture frame), di mana rancangan dibabarkan. Kata 'manipulasi' disini dipakai untuk memberikan tekanan, bahwa kerja perancangan atau mendesain pada dasarnya adalah menciptakan ilusi visual di atas bidang datar, yang mampu menghadirkan kedalaman ruang.

DASAR DASAR PERANCANGAN VISUAL NIRMANA DATAR

Seiring mulai maraknya mesin cetak digital, segala model perwujudan gambar visual menjadi santapan optik kita sehari-hari.  Visualitas yang menyajikan begitu banyak variasi perpaduan warna maupun komposisi itu, hadir begitu membanjir dan memenuhi perbendaharaan pengalaman mata kita, dan mengendap sebagai memori visual. Mulai dari sampul buku, media masa berupa koran atau majalah, poster serta beragam media cetak lainnya, tak luput dari kehadiran gambar. Bahkan pada tubuh kendaraan yang memiliki bidang-bidang lebar seperti bus, dan truk tak luput dari kehadiran gambar pula.

Optik mata kita menjadi tumpuan utama dari semua ingar-bingar visual ini. Tak bisa dipungkiri, bahwa 80 persen dari komunikasi kita didasarkan dan bertumpu pada indera sensor optik ini. Dan mata merupakan alat vital kita dalam menangkap dan meneruskan informasi citra yang kita tangkap menuju otak.

Dapat dikatakan penglihatan kita disuguhi dan dimanjakan oleh sensasi perwujudan visual yang tidak terbatas. Padahal, semua visualitas itu diwujudkan di atas permukaan yang sangat terbatas, berupa bidang datar, yang disebut bidang dua dimensi (dengan skala panjang kali lebar). Namun justru di atas keterbatasan dimensionalnya itu, visualitas menjadi menarik karena mampu meneruskan/melanjutkan/membabarkan imajinasi perancang untuk dihadirkan kepada khalayak pengamat.

Bila dirunut jauh ke belakang, berdasarkan elemen yang memungkinkan terbentuknya citra visual itu, tak lebih berupa unsur-unsur visual berupa garis, bidang, dan warna serta tekstur atau barik (semu) saja. Dari perpaduan interaktif antar unsur-unsur visual itulah gambar terbentuk di atas bidang. Adalah tugas perancang atau desainer untuk mengolah unsur-unsur visual itu, di bawah prinsip-prinsip perancangan/visual, sehingga sebuah citra atau gambar terwujud, merefleksikan gagasan imajinatif perancang/desainer.

Apa yang dimaksud dengan unsur-unsur visual adalah bahan baku perancangan. Sementara yang dimaksud dengan prinsip-prinsip perancangan (prinsip desain) adalah tata-kelola atau kaidah yang menjadi rambu-rambu pegangan perancang dalam melahirkan sebuah komposisi visualitas perancangan.

Perwujudan Visual perancangan nirmana datar, dengan demikian bertumpu pada strategi pengolahan unsur visual di atas permukaan bidang datar. Dalam praksisnya, daya tarik atau sensasi visualitas rancangan (desain), sebenarnya ditentukan oleh sejauhmana seseorang mampu memanipulasikan sejumlah unsur visual tersebut, sehingga totalitas keterhubungannya mampu menyajikan kesatuan yang selaras dan seimbang, sehingga kehadiran unsur tak bisa lagi dipandang sebagai unit terpisah dan otonom.

Keberhasilan sebuah rancangan datar, sudah barangtentu terkait dengan kepiawaian seorang perancang dalam 'menembus' batas-batas ruang perancangan (kedalaman bidang gambar)  , sehingga di atas permukaan datar itu tampak hadir kedalaman ruang serta ilusi optis yang mempesona pengamat.

Dengan kata lain, rancangan visual yang  baik adalah rancangan yang mampu 'menipu' persepsi pengamat, dan memancing imajinasi pengamat sehingga mengalami keasyikan berselancar melewati batas bidang (picture plane) dan bingkai gambar (picture frame).
 
Dalam satu penciptaan rancangan datar atau desain dua dimensi, pencapaian totalitas keterhubungan rancangan dipengaruhi pula oleh apa yang disebut Elemen REDUNDAN. Yaitu suatu elemen atau unsur yang mempersatukan beragam unsur dalam suatu rancangan, sehingga beragam unsur itu tidak lagi otonom atau independen, tetapi sudah melebur dan menyatu dalam totalitas visual yang utuh.