APRESIASI dan
KREASI.
Ketika seseorang sedang
menghadapi sebuah objek, pada dasarnya berlangsung sebuah proses dimana
seseorang tersebut sedang berdialog dengan objek tersebut. Bila objek yang
dihadapinya kasatmata (visual), maka indera optik (sensor) berperan menyerap
data atau informasi yang dipancarkan objek visual ke otak kita, kemudian otak
akan mengolah informasi tersebut berdasarkan pengalaman dan kecerdasan kita.
Hasil akhir dari proses interaksi inilah yang kemudian akan melahirkan
pandangan kita terhadap objek tersebut. Pandangan hasil pengamatan ini disebut
sebagai sebuah tanggapan. Atau lebih tepat lagi sebuah persepsi. Ilustasi
seperti ditunjukkan gambar no.1
menggambarkan peristiwa berlangsungnya sebuah proses psikologis yang melibatkan
pengalaman masa lalu seseorang yang berinteraksi dengan kecerdasannya, kemudian
membentuk informasi mutakhir terkait dengan objek yang diamati tadi.
Selanjutnya membentuk informasi baru yang akan memperkaya perbendaharaan memori
pengamat sebagai sebuah persepsi.
Peristiwa sebagaimana
digambarkan di atas disebut sebagai proses penghayatan. Hal ini menjelaskan bagaimana suatu proses
psikologis berlangsung dalam diri seseorang pada saat ia menghadapi suatu
objek. Menghayati artinya menyerap informasi yang dipancarkan objek. Meskipun
pada kenyataannya informasi yang dipancarkan itu sesungguhnya adalah pantulan
dari pengalamannya sendiri terhadap objek tersebut.
Proses yang sama
berlangsung ketika seseorang sedang melakukan proses penciptaan atau proses
kreatif. Disebut sebagai aktifitas kreatif (penciptaan/perancangan), karena
pada momen yang sama, sebenarnya ia sedang menciptakan suatu konstruksi gagasan
tentang objek yang sama, hingga terbentuk sebuah tanggapan. Sudah barangtentu
pandangan atau tanggapan, atau lebih tepat lagi persepsi yang terbentuk itu
murni rekayasa yang bersangkutan berdasarkan interaksi mutakhirnya.
Persepsi (P)=
Objek (O) + Senses =S >< (Intelegensia =I + Experience =E)
Gb. 1. Skema persepsi berdasarkan Nathan Knobler
(1966)
Persepsi, atau kesadaran
kita terhadap sekeliling, lebih sering didasarkan pada informasi yang datang
melalui indera dan selama ini dianggap sebagai bagian alamiah dari keberadaan
kita. Asumsi ini diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa setiap orang melihat
secara sama, dan dunia kita pahami
sebagaimana kita melihat, mendengar, menyentuh serta membaui, semuanya secara
sama. Padahal tidaklah demikian. Pada kenyataannya, percobaan penelitian
menunjukkan, bahwa sensasi hanyalah satu bagian saja dari persepsi, dan sensasi
yang kita terima tidak memiliki makna apapun sampai kita dapat mengatur dan
menyusunnya menjadi suatu konstruksi yang saling berkait (koheren) dan kita
sebut sebagai persepsi .
Sebagaimana dipaparkan
oleh Nathan Knobler (1966, 17), seperti ditunjukkan dalam diagram di atas,
bahwa persepsi/perception (P)
seseorang terhadap sesuatu objek/object (O),
terbentuk berdasarkan informasi yang masuk melalui indera/sense (S) kita dan
dipengaruhi oleh interaksi antara pengalaman/experience (E) dan
intelengensi/intelegentia (I)
kita. Demikianlah mengapa terhadap objek yang sama persepsi seseorang berbeda
dengan persepsi orang lain, karena intelegensi dan pengalaman setiap
individu saling berbeda pula. Sebagai
contoh terkait dengan aspek pengalaman misalnya, mencakup baik pengalaman
psikologis, pengalaman sosial, pengalaman budaya, pengalaman artistik, dan
sebagainya. Begitu pula dengan aspek intelegensi seseorang. Oleh sebab itu
dapat dipahami, manakala dua orang menatap pada suatu objek, katakanlah suatu
peristiwa yang sama, interpretasi
terhadap suatu peristiwa itu tentu akan berlainan satu sama lain. Sebagai
contoh; persitiwa matahari terbenam di pantai Kuta, Bali akan dimaknai secara
berbeda bagi mereka yang memiliki pengalaman indah karena bertemu dengan
seorang turis cantik, dengan mereka yang memiliki pengalaman tak enak karena
ditangkap Satpam, misalnya.
Berlangsungnya peristiwa
dialog “interaktif” antara seseorang dengan objek seperti digambarkan di
atas, dapat dikatakan sebagai proses
penghayatan apresiasi. Lebih spesifik dapat diilustrasikan; ketika seseorang
menatap sebuah objek estetik, maka informasi yang diserapnya adalah informasi
estetik. Sehinga tanggapan yang terbentuk merupakan persepsi estetik. Namun
karena pada waktu mengkonstruksi informasi-informasi estetik tersebut secara
simultan juga berlangsung proses interpretasi, maka akumulasi tanggapan yang
membentuk persepsi sesungguhnya sudah merupakan persepsi artistik.
Bahasan penting lain dari
diskusi di atas adalah peranan interpretasi
yang berlangsung dalam proses
penghayatan. Karena peran interpretasi inilah maka proses penghayatan
sebenarnya dapat pula dikatakan sebagai proses kreatif. Dikatakan sebagai
proses kreatif karena peran meng-interpretasi merupakan otonomi atau hak
prerogatif penghayat dalam mengkonstruksi informasi (dari objek yang diamati)
sehingga membentuk persepsi. Itulah sebabnya maka apa yang disebut sebagai
proses apresiasi di atas, juga merupakan proses kreasi.
Rangkuman:
-
Persepsi seseorang terbentuk
berdasarkan informasi yang ditangkap oleh indera, selanjutnya berinteraksi
dengan pengalaman dan intelegensi yang bersangkutan. Bila disederhanakan
formulasinya: P= O + S (E +I).
-
Ketika seorang penghayat menatap objek estetik, maka akan membentuk
persepsi artistik.
-
Selama proses penghayatan berlangsung, di samping terjadi proses apresiasi, seorang penghayat
sesungguhnya sedang terlibat pula dengan proses kreasi, yaitu ketika ia aktif membentuk
atau menciptrakan perspesi tersebut.