DASAR DASAR PERANCANGAN VISUAL NIRMANA DATAR
Seiring mulai maraknya mesin cetak digital, segala model perwujudan gambar visual menjadi santapan optik kita sehari-hari. Visualitas yang menyajikan begitu banyak variasi perpaduan warna maupun komposisi itu, hadir begitu membanjir dan memenuhi perbendaharaan pengalaman mata kita, dan mengendap sebagai memori visual. Mulai dari sampul buku, media masa berupa koran atau majalah, poster serta beragam media cetak lainnya, tak luput dari kehadiran gambar. Bahkan pada tubuh kendaraan yang memiliki bidang-bidang lebar seperti bus, dan truk tak luput dari kehadiran gambar pula.
Optik mata kita menjadi tumpuan utama dari semua ingar-bingar visual ini. Tak bisa dipungkiri, bahwa 80 persen dari komunikasi kita didasarkan dan bertumpu pada indera sensor optik ini. Dan mata merupakan alat vital kita dalam menangkap dan meneruskan informasi citra yang kita tangkap menuju otak.
Dapat dikatakan penglihatan kita disuguhi dan dimanjakan oleh sensasi perwujudan visual yang tidak terbatas. Padahal, semua visualitas itu diwujudkan di atas permukaan yang sangat terbatas, berupa bidang datar, yang disebut bidang dua dimensi (dengan skala panjang kali lebar). Namun justru di atas keterbatasan dimensionalnya itu, visualitas menjadi menarik karena mampu meneruskan/melanjutkan/membabarkan imajinasi perancang untuk dihadirkan kepada khalayak pengamat.
Bila dirunut jauh ke belakang, berdasarkan elemen yang memungkinkan terbentuknya citra visual itu, tak lebih berupa unsur-unsur visual berupa garis, bidang, dan warna serta tekstur atau barik (semu) saja. Dari perpaduan interaktif antar unsur-unsur visual itulah gambar terbentuk di atas bidang. Adalah tugas perancang atau desainer untuk mengolah unsur-unsur visual itu, di bawah prinsip-prinsip perancangan/visual, sehingga sebuah citra atau gambar terwujud, merefleksikan gagasan imajinatif perancang/desainer.
Apa yang dimaksud dengan unsur-unsur visual adalah bahan baku perancangan. Sementara yang dimaksud dengan prinsip-prinsip perancangan (prinsip desain) adalah tata-kelola atau kaidah yang menjadi rambu-rambu pegangan perancang dalam melahirkan sebuah komposisi visualitas perancangan.
Perwujudan Visual perancangan nirmana datar, dengan demikian bertumpu pada strategi pengolahan unsur visual di atas permukaan bidang datar. Dalam praksisnya, daya tarik atau sensasi visualitas rancangan (desain), sebenarnya ditentukan oleh sejauhmana seseorang mampu memanipulasikan sejumlah unsur visual tersebut, sehingga totalitas keterhubungannya mampu menyajikan kesatuan yang selaras dan seimbang, sehingga kehadiran unsur tak bisa lagi dipandang sebagai unit terpisah dan otonom.
Keberhasilan sebuah rancangan datar, sudah barangtentu terkait dengan kepiawaian seorang perancang dalam 'menembus' batas-batas ruang perancangan (kedalaman bidang gambar) , sehingga di atas permukaan datar itu tampak hadir kedalaman ruang serta ilusi optis yang mempesona pengamat.
Dengan kata lain, rancangan visual yang baik adalah rancangan yang mampu 'menipu' persepsi pengamat, dan memancing imajinasi pengamat sehingga mengalami keasyikan berselancar melewati batas bidang (picture plane) dan bingkai gambar (picture frame).
Dalam satu penciptaan rancangan datar atau desain dua dimensi, pencapaian totalitas keterhubungan rancangan dipengaruhi pula oleh apa yang disebut Elemen REDUNDAN. Yaitu suatu elemen atau unsur yang mempersatukan beragam unsur dalam suatu rancangan, sehingga beragam unsur itu tidak lagi otonom atau independen, tetapi sudah melebur dan menyatu dalam totalitas visual yang utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar