Istilah lain dari kata nirmana datar adalah desain dasar.
Ada juga yang menyebutnya dengan desain dua dimensi atau nirmana dua matra.
Digunakannya istilah atau kata dasar, mengacu pada peran pengetahuan dan
teorinya yang mendasari aktifitas perancangan visual pada umumnya. Sedangkan
istilah datar mengacu pada aspek wilayah kerja perancangannya yang bertumpu
pada permukaan bidang dua dimensional atau bidang datar, dimana perancang
menumpahkan gagasan imajinasinya. Kata nirmana, sejauh ini belum ada yang bisa
menjelaskan makna harfiahnya. Sementara kata desain sendiri merupakan serapan
dari kata dalam bahasa Inggris “design”
yang dapat diartikan sebagai rancangan. Secara operasional aktifitas desain
dasar lebih diarahkan untuk memberikan pengalaman bagi seseorang dalam
melakukan olah perancangan, tanpa dibebani kepentingan tujuan praktis tertentu.
Namun lebih ditujukan pada proses penghayatan atas unsur-unsur desain rupa,
meliputi garis, warna, tekstur atau barik maupun bidang serta gempal. kesemuanya
diorganisasikan berdasarkan prinsip-prinsip dasar perancangan, sehingga
tercapai kesatuan, yang dibangun berdasarkan azas keselarasan, azas
proporsionalitas dan azas kesetimbangan. Sesuai dengan karakteristiknya, nirmana
dasar dua dimensi membatasi olah kerja perancangannya di atas permukaan bidang
dua dimensi atau disebut bidang gambar; yang dalam lingkup skala panjang dan
lebar yang disebut dengan bingkai gambar.
Kita akan mengerti beragam unsur desain, memahami kaidah
serta prinsip-prinsip desain, dan mampu mengaplikasikan sistem
pengorganisasiannya dengan segala kompleksitas dan problematika perancangan
desain dalam karakteristik ke-dwi matraan nirmana. Namun sebelum memasuki
substansi tersebut di atas, perlu kiranya memahami terlebih dahulu, bagaimana
sesungguhnya proses perancangan atau penciptaan berlangsung dalam diri
seseorang. Skema terbentuknya persepsi rumusan Nathan Knobler kiranya relevan
untuk memenuhi harapan tersebut. Karena pada dasarnya, dapat dikatakan, semua
yang diciptaankan manusia di muka bumi ini lahir sebagai buah pikir manusia.
Dan pikiran tentu tak dapat dilepaskan kaitannya dengan persepsi, karena
persepsi-lah yang mendasari baik gagasan maupun tindakan seseorang.
Buku ini disusun berdasarkan urutan;
Uraian yang menjelaskan
bagaimana persepsi seseorang terbentuk. Dengan memahami terbentuknya persepsi
diharapkan sidang pembaca akan lebih mudah untuk menempatkan peran dan
posisinya sebagai seorang perancang atau desainer, serta tugas dan tanggung
jawab apa yang bisa dikembangkannya melalui dunia perancangan. Bila pembaca
mencermati bagaimana proses sebuah persepsi atau tanggapan seseorang terbentuk,
pembaca dengan mudah akan mampu merekonstruksi bagaimana sebuah proses
penghayatan berlangsung. Dengan cara yang sama, sesungguhnya kita juga sedang
menjalani sebuah proses kreasi. Oleh karena persepsi yang terbentuk itu
sebenarnya merupakan buah proses penciptaan tanggapan kita masing-masing yang
khas, terhadap seuatu gejala.
Proses penghayatan
terhadap objek, dengan demikian dapat pula dikatakan sebagai proses kreatif. Karena
pada momen itu, pada saat kita menghayati, kita juga sedang memunculkan
sebagian dari pernik kekayaan perbendaharaan memori/pengalaman kita untuk
saling berdialog dengan objek yang kita amati, sehingga muncul imajinasi. Dalam
kalimat lain dapat dikatakan, kita terinspirasi oleh objek, dan oleh karenanya
muncul gagasan atau tanggapan kita terhadap objek tersebut. Melalui pendekatan
ini, diharapkan pembaca akan memiliki pemahaman komprehensif yang membantu
praktek perancangan, dan lebih dari itu kerja kreatif penciptaan.
Diikuti kemudian dengan
uraian deskriptif ragam unsur rancangan atau elemen desain sebagai bahan
baku perancangan visual serta cakupan
konseptualnya; strategi atau kaidah pengorganisasian unsur-unsur desain atau
populer disebut prinsip dasar desain. Keduanya dilengkapi dengan ilustrasi
contoh-contoh serta cara mengaplikasikannya dalam sebuah komposisi. Pada bagian
akhir dipaparkan sejumlah materi contoh tugas perancangan serta strategi
pelaksanaannya.
BAB I
MERANCANG dan
MENGHIAS
Dalam
setiap produk perancangan, selalu tak bisa ditinggalkan apa yang disebut
sebagai kaidah perancangan. Kaidah perancangan atau dikenal dengan prinsip desain, merupakan semacam bentuk tata aturan, bagaimana
suatu proses perancangan dilahirkan, setelah melalui serangkaian tahapan analitis mulai dari
gagasan, perencanaan, percobaan hingga
realisasi perancangannya bisa diselesaikan. Dalam proses rancang rupa khususnya, apa yang disebut
dengan prinsip perancangan, atau lebih sering disebut dengan prinsip desain,
adalah suatu sistem organisasi dari elemen-elemen (unsur-unsur) dasar
perancangan. Karena pada dasarnya, merancang adalah mengorganisasikan
unsur-unsur rancangan, sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan total.
Dengan memahami dan menghayati kaidah perancangan atau prinsip desain, seorang
perancang akan leluasa dalam menghasilkan produk rancangannya.
Pada dasarnya, setiap
orang adalah perancang. Nyaris semua aktifitas yang dilakukan oleh manusia,
setiap hari, tidak bisa lepas dari aktifitas perancangan. Pada saat seseorang
mereka-reka busana yang hendak dikenakannya hari itu; ketika seseorang
merangkai sejumlah kata dalam menyusun kalimat; atau sewaktu seseorang
memilah-milah sayuran, dan kemudian memilih beberapa di antaranya sebelum ia
memasaknya, pada saat itulah seseorang sedang terlibat dengan aktifitas
merancang.
Merancang adalah menyusun
sejumlah unsur sehingga menjadi satu kesatuan. Sebagai satu kesatuan,
unsur-unsur itu kemudian terbentuk sebagai satu entitas baru, dalam suatu komposisi
yang utuh. Sebagai satu entitas, sebuah rancangan dikatakan berhasil manakala
keseluruhan unsur yang disusun dan diorganisasikan telah menyatu (unity) sehingga tidak dapat lagi dilihat
sebagai bagian per bagian.
Mendesain nirmana datar,
atau merancang desain dua dimensi, mengandung pengertian menyusun gagasan keindahan
perupaan (visual) ke dalam wujud kongkrit di atas bidang datar (dua
dimensional). Lebih dari itu, mendesain sebagai kata kerja adalah menyelesaikan
suatu masalah yang dilaksanakan secara kreatif. Ada slogan yang menyatakan: “design is how to solve the problem creativly.”
sedangkan pengertian kreatif adalah “how
to make a design in simplycity and artisticly, but usefull and efectivly”.
Dengan kata lain, dalam sebuah rancangan atau desain selain memenuhi kaidah
keindahan, haruslah sederhana namun sekaligus juga berdaya guna secara efektif.
Dalam pelaksanaannya,
merancang merupakan kerja praktis. Dalam ranah perancangan perupaan, kerja
praktis itu melibatkan sejumlah asas atau kaidah perupaan berupa tema
rancangan; yang harus diimplementasikan berdasarkan kaidah-kaidah perancangan
yang lain; seperti asas komposisi; apakah komposisi terbuka atau komposis tertutup, asas karakter unsur desain;
asas perseptual (pemahaman); dan asas optis (penglihatan). Asas tema pada
rancangan menyiratkan arah dan tujuan gagasan yang mengandung aspek
keterencanaan. Sebuah rancangan desain visual akan mampu menunjukkan ketuntasan
purna rupa, manakala gagasan visualisasinya dituntun oleh arah perwujudan yang
matang, dan disertai kemantapan tujuan yang jelas. Kesemuanya ini akan menjelma
sebagai langkah kerja yang terencana yang termanifestasikan di dalam rancangan.
Secara teoritis,
merancang dibedakan dengan menghias. Sebagaimana telah diuraikan di atas,
ketika seseorang terlibat dalam suatu proses perancangan, maka aspek
keterencanaan merupakan hal penting. Melalui sebuah perencanaan yang matang,
sebuah rancangan akan hadir secara utuh, dimana totalitas keterhubungan antar
unsur, meliputi keselarasannya, kesetimbangannya, maupun proporsionalitasnya
saling terjaga satu sama lain, berpadu menjadi satu kesatuan yang mampu
menghadirkan rancangan sesuai dengan tema yang digagas. Sementara kerja
menghias terbatas hanya pada ranah permukaan saja. Sebagai contoh, ketika
seseorang diminta untuk membuat dan menyajikan nasi goreng, maka ia tidak
sekedar dituntut untuk menyajikan nasi yang telah digoreng di atas piring
sehingga tampil menarik. Akan tetapi lebih dari itu ia sedang merancang bagaimana nasi
goreng yang disajikan itu nantinya mampu menghadirkan rasa atau taste yang baru, yang khas dan unik sebagai karya. Dalam konteks
ini, terminologi ‘merancang’ berkaitan dengan kreatifitas pemasak dalam meramu
bumbu dan sejumlah unsur yang harus disatukan sehingga membentuk nasi goreng
khas. Sedangkan terminologi ‘menghias’, sebatas bagaimana nasi goreng yang
telah dimasak itu disajikan di atas piring, di mana harus diletakkan kerupuk
dan mentimun serta di mana tomatnya sehingga tampil menarik. Hal yang sama juga
berlaku pada saat seseorang merancang sebuah baju. Sebuah rancangan baju tentu
didasarkan pada tema dari baju itu, maka seluruh
kerja memotong kain, penempatan unsur kelengkapan baju seperti kancing dan
sebagainya, tidak boleh lepas dari tema baju yang telah ditentukan.
Kerja perancangan datar
atau desain dua dimensi memang tak lepas dari persoalan visualitas, atau citra
yang kasat mata. Sama dengan persoalan penyajian nasi goreng di atas. Namun
permasalahannya adalah, bagaimana unsur-unsur kasat mata yang membentuk sebuah
rancangan itu kemudian hadir dalam sebuah tema rancangan, sehingga antara yang
kasat mata dan tema yang diidealisasikan menjadi menyatu (unity). Dalam pengertian inilah makna perancangan itu bisa
diartikan sebagai manifestasi dari adanya aspek perencanaan. Karena merancang
pada dasarnya adalah mewujudkan sebuah rencana. Atau dengan kata lain,
merealisasikan gagasan perupaan berdasarkan sebuah konsep. Oleh karena itu
sebuah desain yang baik akan menunjukkan jejak keterencanaan sebuah gagasan,
dan hasilnya sudah final. Pada gilirannya, sebuah rancangan yang baik akan
memancarkan keindahan. Karena keindahan hanya akan tercapai manakala
keseluruhan unsur yang diorganisir tepat pada tempatnya, sehingga tak ada lagi
cela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar