Rabu, 28 Agustus 2013

PENDAHULUAN



          Istilah lain dari kata nirmana datar adalah desain dasar. Ada juga yang menyebutnya dengan desain dua dimensi atau nirmana dua matra. Digunakannya istilah atau kata dasar, mengacu pada peran pengetahuan dan teorinya yang mendasari aktifitas perancangan visual pada umumnya. Sedangkan istilah datar mengacu pada aspek wilayah kerja perancangannya yang bertumpu pada permukaan bidang dua dimensional atau bidang datar, dimana perancang menumpahkan gagasan imajinasinya. Kata nirmana, sejauh ini belum ada yang bisa menjelaskan makna harfiahnya. Sementara kata desain sendiri merupakan serapan dari kata dalam bahasa Inggris “design” yang dapat diartikan sebagai rancangan. Secara operasional aktifitas desain dasar lebih diarahkan untuk memberikan pengalaman bagi seseorang dalam melakukan olah perancangan, tanpa dibebani kepentingan tujuan praktis tertentu. Namun lebih ditujukan pada proses penghayatan atas unsur-unsur desain rupa, meliputi garis, warna, tekstur atau barik maupun bidang serta gempal. kesemuanya diorganisasikan berdasarkan prinsip-prinsip dasar perancangan, sehingga tercapai kesatuan, yang dibangun berdasarkan azas keselarasan, azas proporsionalitas dan azas kesetimbangan. Sesuai dengan karakteristiknya, nirmana dasar dua dimensi membatasi olah kerja perancangannya di atas permukaan bidang dua dimensi atau disebut bidang gambar; yang dalam lingkup skala panjang dan lebar yang disebut dengan bingkai gambar.
          Kita akan mengerti beragam unsur desain, memahami kaidah serta prinsip-prinsip desain, dan mampu mengaplikasikan sistem pengorganisasiannya dengan segala kompleksitas dan problematika perancangan desain dalam karakteristik ke-dwi matraan nirmana. Namun sebelum memasuki substansi tersebut di atas, perlu kiranya memahami terlebih dahulu, bagaimana sesungguhnya proses perancangan atau penciptaan berlangsung dalam diri seseorang. Skema terbentuknya persepsi rumusan Nathan Knobler kiranya relevan untuk memenuhi harapan tersebut. Karena pada dasarnya, dapat dikatakan, semua yang diciptaankan manusia di muka bumi ini lahir sebagai buah pikir manusia. Dan pikiran tentu tak dapat dilepaskan kaitannya dengan persepsi, karena persepsi-lah yang mendasari baik gagasan maupun tindakan seseorang.



Buku ini disusun berdasarkan urutan;
          Uraian yang menjelaskan bagaimana persepsi seseorang terbentuk. Dengan memahami terbentuknya persepsi diharapkan sidang pembaca akan lebih mudah untuk menempatkan peran dan posisinya sebagai seorang perancang atau desainer, serta tugas dan tanggung jawab apa yang bisa dikembangkannya melalui dunia perancangan. Bila pembaca mencermati bagaimana proses sebuah persepsi atau tanggapan seseorang terbentuk, pembaca dengan mudah akan mampu merekonstruksi bagaimana sebuah proses penghayatan berlangsung. Dengan cara yang sama, sesungguhnya kita juga sedang menjalani sebuah proses kreasi. Oleh karena persepsi yang terbentuk itu sebenarnya merupakan buah proses penciptaan tanggapan kita masing-masing yang khas, terhadap seuatu gejala.
          Proses penghayatan terhadap objek, dengan demikian dapat pula dikatakan sebagai proses kreatif. Karena pada momen itu, pada saat kita menghayati, kita juga sedang memunculkan sebagian dari pernik kekayaan perbendaharaan memori/pengalaman kita untuk saling berdialog dengan objek yang kita amati, sehingga muncul imajinasi. Dalam kalimat lain dapat dikatakan, kita terinspirasi oleh objek, dan oleh karenanya muncul gagasan atau tanggapan kita terhadap objek tersebut. Melalui pendekatan ini, diharapkan pembaca akan memiliki pemahaman komprehensif yang membantu praktek perancangan, dan lebih dari itu kerja kreatif penciptaan.
          Diikuti kemudian dengan uraian deskriptif ragam unsur rancangan atau elemen desain sebagai bahan baku  perancangan visual serta cakupan konseptualnya; strategi atau kaidah pengorganisasian unsur-unsur desain atau populer disebut prinsip dasar desain. Keduanya dilengkapi dengan ilustrasi contoh-contoh serta cara mengaplikasikannya dalam sebuah komposisi. Pada bagian akhir dipaparkan sejumlah materi contoh tugas perancangan serta strategi pelaksanaannya.


BAB I
MERANCANG dan MENGHIAS
Dalam setiap produk perancangan, selalu tak bisa ditinggalkan apa yang disebut sebagai kaidah perancangan. Kaidah perancangan atau dikenal dengan prinsip desain, merupakan semacam bentuk tata aturan, bagaimana suatu proses perancangan dilahirkan, setelah melalui serangkaian tahapan analitis mulai dari gagasan, perencanaan, percobaan hingga  realisasi perancangannya bisa diselesaikan. Dalam proses rancang rupa khususnya, apa yang disebut dengan prinsip perancangan, atau lebih sering disebut dengan prinsip desain, adalah suatu sistem organisasi dari elemen-elemen (unsur-unsur) dasar perancangan. Karena pada dasarnya, merancang adalah mengorganisasikan unsur-unsur rancangan, sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan total. Dengan memahami dan menghayati kaidah perancangan atau prinsip desain, seorang perancang akan leluasa dalam menghasilkan produk rancangannya.
          Pada dasarnya, setiap orang adalah perancang. Nyaris semua aktifitas yang dilakukan oleh manusia, setiap hari, tidak bisa lepas dari aktifitas perancangan. Pada saat seseorang mereka-reka busana yang hendak dikenakannya hari itu; ketika seseorang merangkai sejumlah kata dalam menyusun kalimat; atau sewaktu seseorang memilah-milah sayuran, dan kemudian memilih beberapa di antaranya sebelum ia memasaknya, pada saat itulah seseorang sedang terlibat dengan aktifitas merancang.
          Merancang adalah menyusun sejumlah unsur sehingga menjadi satu kesatuan. Sebagai satu kesatuan, unsur-unsur itu kemudian terbentuk sebagai satu entitas baru, dalam suatu komposisi yang utuh. Sebagai satu entitas, sebuah rancangan dikatakan berhasil manakala keseluruhan unsur yang disusun dan diorganisasikan telah menyatu (unity) sehingga tidak dapat lagi dilihat sebagai bagian per bagian.
          Mendesain nirmana datar, atau merancang desain dua dimensi, mengandung pengertian menyusun gagasan keindahan perupaan (visual) ke dalam wujud kongkrit di atas bidang datar (dua dimensional). Lebih dari itu, mendesain sebagai kata kerja adalah menyelesaikan suatu masalah yang dilaksanakan secara kreatif. Ada slogan yang menyatakan: “design is how to solve the problem creativly.” sedangkan pengertian kreatif adalah “how to make a design in simplycity and artisticly, but usefull and efectivly”. Dengan kata lain, dalam sebuah rancangan atau desain selain memenuhi kaidah keindahan, haruslah sederhana namun sekaligus juga berdaya guna secara efektif.
          Dalam pelaksanaannya, merancang merupakan kerja praktis. Dalam ranah perancangan perupaan, kerja praktis itu melibatkan sejumlah asas atau kaidah perupaan berupa tema rancangan; yang harus diimplementasikan berdasarkan kaidah-kaidah perancangan yang lain; seperti asas komposisi; apakah komposisi terbuka atau komposis tertutup, asas karakter unsur desain; asas perseptual (pemahaman); dan asas optis (penglihatan). Asas tema pada rancangan menyiratkan arah dan tujuan gagasan yang mengandung aspek keterencanaan. Sebuah rancangan desain visual akan mampu menunjukkan ketuntasan purna rupa, manakala gagasan visualisasinya dituntun oleh arah perwujudan yang matang, dan disertai kemantapan tujuan yang jelas. Kesemuanya ini akan menjelma sebagai langkah kerja yang terencana yang termanifestasikan di dalam rancangan.
          Secara teoritis, merancang dibedakan dengan menghias. Sebagaimana telah diuraikan di atas, ketika seseorang terlibat dalam suatu proses perancangan, maka aspek keterencanaan merupakan hal penting. Melalui sebuah perencanaan yang matang, sebuah rancangan akan hadir secara utuh, dimana totalitas keterhubungan antar unsur, meliputi keselarasannya, kesetimbangannya, maupun proporsionalitasnya saling terjaga satu sama lain, berpadu menjadi satu kesatuan yang mampu menghadirkan rancangan sesuai dengan tema yang digagas. Sementara kerja menghias terbatas hanya pada ranah permukaan saja. Sebagai contoh, ketika seseorang diminta untuk membuat dan menyajikan nasi goreng, maka ia tidak sekedar dituntut untuk menyajikan nasi yang telah digoreng di atas piring sehingga tampil menarik. Akan tetapi lebih dari itu ia sedang merancang bagaimana nasi goreng yang disajikan itu nantinya mampu menghadirkan rasa atau taste yang baru, yang khas dan unik sebagai karya. Dalam konteks ini, terminologi ‘merancang’ berkaitan dengan kreatifitas pemasak dalam meramu bumbu dan sejumlah unsur yang harus disatukan sehingga membentuk nasi goreng khas. Sedangkan terminologi ‘menghias’, sebatas bagaimana nasi goreng yang telah dimasak itu disajikan di atas piring, di mana harus diletakkan kerupuk dan mentimun serta di mana tomatnya sehingga tampil menarik. Hal yang sama juga berlaku pada saat seseorang merancang sebuah baju. Sebuah rancangan baju tentu didasarkan pada tema dari baju itu, maka seluruh kerja memotong kain, penempatan unsur kelengkapan baju seperti kancing dan sebagainya, tidak boleh lepas dari tema baju yang telah ditentukan.
          Kerja perancangan datar atau desain dua dimensi memang tak lepas dari persoalan visualitas, atau citra yang kasat mata. Sama dengan persoalan penyajian nasi goreng di atas. Namun permasalahannya adalah, bagaimana unsur-unsur kasat mata yang membentuk sebuah rancangan itu kemudian hadir dalam sebuah tema rancangan, sehingga antara yang kasat mata dan tema yang diidealisasikan menjadi menyatu (unity). Dalam pengertian inilah makna perancangan itu bisa diartikan sebagai manifestasi dari adanya aspek perencanaan. Karena merancang pada dasarnya adalah mewujudkan sebuah rencana. Atau dengan kata lain, merealisasikan gagasan perupaan berdasarkan sebuah konsep. Oleh karena itu sebuah desain yang baik akan menunjukkan jejak keterencanaan sebuah gagasan, dan hasilnya sudah final. Pada gilirannya, sebuah rancangan yang baik akan memancarkan keindahan. Karena keindahan hanya akan tercapai manakala keseluruhan unsur yang diorganisir tepat pada tempatnya, sehingga tak ada lagi cela.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar